
Indonesia adalah negeri yang sangat kaya dengan sumber alam daratan maupun lautan, dan memiliki tropical rain forest ketiga terbesar di dunia. Namun, segala keistimewaan dan kekayaan ini hanyalah sia-sia bila kita tidak bisa memanfaatkan, mengelola, mengolah, dan melestarikannya.
Mari kita tengok kembali ke sejarah kejayaan Majapahit, negeri Nusantara pertama sebelum NKRI yang merupakan negara maritim, de jure maupun de facto. Majapahit mencapai puncak kejayaan di bawah Hayam Wuruk yang berkuasa selama hampir 4 dasa warsa. Dia didampingi Patih Gajah Mada yang masyhur dengan sumpah Palapanya. Gajah Mada, seorang patih, negarawan, ahli strategi perang dan hukum. Namanya kini diabadikan sebagai nama universitas negeri tertua dan terbesar di Indonesia.
Di jaman Majapahit dulu, Hayam Wuruk, ‘Ayam yang pandai’, berhasil memerintah dan menguasai seluruh Nusantara, dari Sabang sampai Merauke, sebagai bangsa yang berdaulat. Majapahit di bawah Hayam Wuruk adalah kerajaan maritim yang jaya, merupakan kekuasaan besar di Asia Tenggara, kombinasi sekaligus pengganti dua kerajaan besar sebelumnya, Mataram – negara pertanian, dan Sriwijaya – negara maritim. Dia memerintah sejak usia enam belas tahun, 1350-1389.
Mungkinkah sebuah Negara maritim berkembang dan mencapai puncak kejayaan tanpa didukung angkatan laut yang kuat? Tentu saja tidak!
Keberhasilan Majapahit dalam mengembangkan teknologi bahari dengan membangun kapal bercadik menjadi tumpuan utama kekuatan armada lautnya. Di relief candi Borobudur kita dapat melihat pahatan kapal ini yang dibangun dengan pasak kayu, tanpa menggunakan paku! Layarnya terbuat dari tanaman yang dianyam yang mudah digerakkan sesuai arah angin, sehingga laju kapal dapat bergerak lincah sesuai tujuan.
Armada laut Majapahit juga didukung oleh persenjataan meriam hasil rampasan dari bala tentara Kubilai Khan ketika menyerang Kediri. Kapal-kapal Jawa berukuran raksasa dengan tiga-empat layar ini dikagumi dan dipuji kehebatannya oleh para penjelajah dunia di abad ke-14 seperti Rahib Odrico, Jonhan de Marignolli, dan Ibnu Battuta. Kapal raksasa dengan panjang 70 meter dan berat lebih dari 500 ton ini mampu memuat 600 penumpang. Bisa dibayangkan betapa sudah majunya teknologi perkapalan waktu itu. Nusantara di bawah Majapahit tujuh abad yang lalu! Irawan Djoko Nugroho (2011) menyebutkan bahwa jumlah armada Jong Majapahit ketika itu mencapai 400 kapal. Di abad ke 12, Jawa sudah dikenal di jagat raya.
Dalam buku Da Asia yang ditulis oleh Dieo de Couto disebutkan bahwa orang Jawalah yang terlebih dulu berlayar sampai ke Tanjung Harapan, Afrika, dan Madagaskar. Banyak penduduk keturunan Jawa yang tinggal di Tanjung Harapan di awal abad ke-16, sampai sekarang.


